Monday, August 30, 2010

MENASIHATI BUKAN SETAKAT BERKATA2 SAHAJA

MENASIHATI BUKAN SETAKAT BERKATA2 SAHAJA

! Petikan drp Kolum Mahmudah Dlm Majalah Solusi, catatan Syikhuna Us Umar Muhd Nur
by Ustaz Zahazan Mohamed on Tuesday, 31 August 2010 at 08:40
Jarir bin Abdillah Al-Bajali (w.51 H) seorang sahabat Nabi s.a.w. yang sangat kacak rupanya. Khalifah Umar bin Al-Khattab pernah memanggilnya sebagai “Nabi Yusuf” umat ini. Jarir masuk Islam pada tahun 10 H di Madinah dan berbai’ah kepada Rasulullah s.a.w. dengan berkata, “Aku berbaiah kepada Rasulullah s.a.w. untuk selalu mendirikan solat, membayar zakat dan memberi nasihat terhadap setiap Muslim.” Alhamdulillah, sampai akhir hayatnya, Jarir tetap berpegang teguh dengan tiga janji yang ia ucapkan ini.
Imam Al-Tabarani dalam Mu’jam Al-Kabir meriwayatkan bahawa pada suatu hari Jarir pergi ke pasar dengan pembantunya untuk membeli seekor kuda. Setelah melihat kuda yang diinginkannya, Jarir memerintahkan supaya membelinya. Pembantunya dan pemilik kuda sepakat dengan harga tiga ratus dirham, lalu mereka mendatangi Jarir untuk mengambil wang yang disepakati.
Jarir bertanya, “Berapa harganya?” Pemilik kuda berkata, “Tiga ratus dirham.” Jarir berkata, “Kuda ini bernilai lebih dari itu.” Orang itu bertanya, “Berapa harganya menurutmu?” Jarir berkata, “Kamu harus menjualnya antara 500 hingga 800 dirham.” Ia lalu memberikan jumlah itu kepada pemilik kuda tersebut. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, Jarir menjawab, “Saya berjanji kepada Rasulullah s.a.w. untuk selalu menasihati kaum Muslimin.”

Raih Keberkahan Di Pagi Hari

Raih Keberkahan Di Pagi Hari
Diposkan oleh Bermanfaat Bagi Yang Lain di 15.44 . Sabtu, 20 Maret 2010

http://wirausahapesantren.blogspot.com/2010/03/raih-keberkahan-di-pagi-hari.html

Saudaraku, Islam ternyata sangat peduli dengan dinamika dan semangat beraktivitas di awal waktu. Setiap hari selalu diawali dengan datangnya waktu pagi. Waktu pagi merupakan waktu istimewa. Ia selalu diasosiasikan sebagai simbol kegairahan, kesegaran dan semangat. Barangsiapa merasakan udara pagi niscaya dia akan mengatakan bahwa itulah saat paling segar alias fresh sepanjang hari. Pagi sering dikaitkan dengan harapan dan optimisme. Pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan sukses. Sehingga dalam peradaban barat-pun dikenal suatu pepatah berbunyi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing).

Dalam sebuah hadits ternyata Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam juga memberi perhatian kepada waktu pagi. Sehingga di dalam hadits tersebut beliau mendoakan agar ummat Islam peduli dan mengoptimalkan waktu spesial dan berharga ini.



Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.” (HR Abu Dawud 2239)

Melalui doa di atas Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ingin melihat umatnya menjadi kumpulan manusia yang gemar beraktifitas di awal waktu. Dan hanya mereka yang sungguh-sungguh mengharapkan keberhasilan dan keberkahan-lah yang bakal sanggup berpagi-pagi dalam kesibukan beraktifitas. Oleh karenanya, saudaraku, janganlah kita kecewakan Nabi kita. Janganlah kita jadikan doa beliau tidak terwujud. Marilah kita menjadi ummat yang pandai bersyukur dengan adanya waktu pagi. Marilah kita me-manage jadwal kehidupan kita sehingga di waktu pagi kita senantiasa dilimpahkan berkah karena kita didapati Allah dalam keadaan ber’amal.

Janganlah kita menjadi seperti sebagian orang di muka bumi yang membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja dengan aktifitas tidak produktif, seperti tidur misalnya. Biasanya mereka yang mengisi waktu pagi dengan tidur menjadi fihak yang sering kalah dan merugi. Bagaimana tidak kalah dan merugi? Pagi merupakan waktu yang paling segar dan penuh gairah... Bila di saat paling baik saja seseorang sudah tidak produktif, bagaimana ia bisa diharapkan akan sukses beraktifitas di waktu-waktu lainnya yang kualitasnya tidak lebih baik dari waktu pagi hari...???

Maka, di antara kiat-kiat agar insyaAllah kita selalu memperoleh keberkahan di pagi hari adalah:

Pertama, jangan biasakan begadang di malam hari. Usahakanlah agar setiap malam kita bersegera tidur malam. Idealnya kita jangan tidur malam melebihi jam sepuluh malam. Kalaupun banyak tugas, maka pastikan mulai tidur jangan lebih lambat dari jam sebelas. Kalaupun tugas sedemikian bertumpuknya, maka pastikan bahwa pukul duabelas tengah malam merupakan batas akhir kita masih bangun.

Kedua, pastikan bahwa sedapat mungkin kita bisa bangun di tengah malam sebelum azan Subuh untuk mengerjakan sholat tahajjud dan witir. Idealnya kita selalu berusaha untuk sholat malam sebagaimana Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, yaitu sebanyak delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir. Namun jika tidak tercapai, maka kurangilah jumlah rakaatnya sesuai kesanggupan fisik dan ruhani sehingga minimal dua rakaat tahjjud dan satu rakaat witir. Tapi ingat, ini hanya dikerjakan bila kita terpaksa karena tidur terlalu larut malam mendekati jam duabelas malam. Yang jelas, usahakanlah setiap malam agar kita selalu bisa melaksanakan sholat malam (tahjjud plus witir). Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa orang yang menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat malam, maka ia bakal memperoleh semangat dan kesegaran di pagi harinya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang tidak menyempatkan diri untuk bangun dan sholat malam, maka di pagi hari ia bakal memiliki perasaan buruk dan malas.



“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Syetan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Syetan men-stempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan: Bagimu malam yang panjang maka tidurlah. Apabila ia bangun dan berdzikir kepada Allah ta’aala maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia sholat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhary 4/310)

Ketiga, pastikan diri tidak kesiangan sholat subuh. Dan khusus bagi kaum pria usahakanlah untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Sebab sholat subuh berjamaah di masjid merupakan sarana untuk membersihkan hati dari penyakit kemunafikan.



Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi kaum munafik adalah sholat isya dan subuh (berjamaah di masjid). Andai mereka tahu apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak-rangkak. (HR Muslim 2/123)



”Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.” (HR Muslim 3/387)



Keempat, janganlah tidur sesudah sholat subuh. Segeralah isi waktu dengan sebaik-baiknya. Entah itu dengan bersegera membaca wirid atau ma’tsurat pagi atau apapun kegiatan bermanfaat lainnya. Barangkali bisa membaca buku, berolah-raga atau menulis buku atau bahkan berdagang sebagaimana kebiasaan sahabat Sakhru bin Wada’ah. Orang yang tidur di waktu pagi berarti menyengaja dirinya tidak menjadi bagian dari umat Islam yang didoakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperoleh berkah Allah di pagi hari. Ia menyia-nyiakan kesempatan berharga. Pagi merupakan saat paling berkualitas sepanjang hari. Alangkah naifnya orang yang sengaja membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja tanpa aktifitas bermanfaat dan produktif. Tak heran bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru memobilisasi pasukan perangnya untuk berjihad fi sabilillah senantiasa di awal hari yakni di waktu pagi sehingga fihak musuh terkejut dan tidak siap menghadapinya.

Ya Allah, berkahilah kami di pagi hari selalu. Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari kemalasan dan ketidakberdayaan dalam hidup kami, terutama di waktu pagi hari.

Hadis: Tidur

Ustaz Zahazan Mohamed

Imam al-Nasa’i meriwayatkan dan disahihkan oleh Ibn Hibban, daripada Jabir sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud: “Jika seorang manusia mendekati tempat tidurnya, malaikat dan syaitan segera mendekatinya. Malaikat berkata: ‘Tutuplah (amalmu) dengan kebaikan.’ Syaitan berkata: ‘Tutuplah dengan keburukan.’ Jika ia menyebut nama Allah lalu tidur, maka malaikat itu menjaganya hingga pagi...”

Sunday, August 29, 2010

Masjid & Bukan Islam - Dr Maza

Bukan Muslim, Masjid Dan Mainan Politik
Disiarkan pada Aug 29, 2010 dalam kategori Kenyataan & Penjelasan |
BUKAN MUSLIM, MASJID DAN MAINAN POLITIK
Dr. Mohd Asri Zainul Abidin

Saya amat bimbang apabila isu-isu agama dipolitikkan. Islam cuba ditafsirkan menurut kepentingan politik masing-masing. Hukum-hakam syarak menjadi mangsa. Permainan politik sanggup menggadaikan segalanya. Amat berbeza antara penilaian berteraskan politik kepartian dengan penilaian yang berasaskan metodologi ilmu dalam Islam.

Politik kepartian sering menilai isu atau sesuatu berasaskan kepentingan (political interest), persepsi dan prejudis. Sementara ilmu Islam yang sahih menilai sesuatu berdasarkan dalil dan fakta. Kebenaran dalam Islam itu buta warna parti atau kumpulan. Kebenaran itu kebenaran, tanpa mengira dari mana dan kepada siapa ia berpihak. Firman Allah: (maksudnya):

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.” (Surah al-Maidah, ayat 8).

Orang politik datang dan pergi. Parti politik juga demikian. Namun, Islam kekal abadi. Ia menjadi cahaya yang menyinari kehidupan manusia. Orang politik boleh musnah, parti juga boleh hancur. Manusia tidak semestinya bergantung kepada seseorang tokoh atau sesebuah parti. Namun, manusia sentiasa perlukan hidayah Islam yang membimbing ke jalan yang benar. Islam mesti kekal bersih, membimbing semua manusia. Malanglah jika orang politik sanggup mempertaruhkan Islam untuk survival mereka!
Tambah Keliru
Bukan muslim bertambah keliru dengan hukam-hakam berkaitan mereka yang dikeluarkan kebelakangan ini. Fatwa-fatwa ‘ala-Taliban’ yang menggambarkan sikap keras Islam terhadap pihak lain dicadang dan didendangkan oleh sesetengah media. ‘Juru-juru fatwa’ yang boleh ditekan suisnya oleh pihak politik bersedia menunggu. Islam dikaburkan oleh permainan yang seperti ini. Dalam Islam, hubungan dengan bukan muslim bermula dengan terang dahulu, setelah diperjelaskan dan masih ada permusuhan barulah tindakan ‘peperangan’ boleh diambil jika ada keperluan. Ini dalam masyarakat kita ‘perang dahulu’ tanpa sebarang penerangan awal yang jelas.
Saya telah ulas dalam banyak media tentang isu doa kebaikan kepada bukan muslim. Kini timbul pula isu bukan muslim masuk masjid. Ya, isu ini bermula dengan orang politik. Namun janganlah dalam keghairahan hendak menghentam musuh politik, fakta Islam pula yang dimangsakan. Jika kita enggan menerima mereka masuk, itu persoalan lain. Tetapi menggambarkan kepada mereka bahawa Islam melarang mereka sama sekali memasuki masjid, itu boleh menimbulkan salah faham. Islam ala melayu atau Islam yang ada dalam sejarahnya yang gemilang? Rasulullah menerima perwakilan dalam masjid, bagaimana tiba-tiba hari ini masjid diharamkan untuk mereka?!
Masuk Masjid
Ya, para fuqaha (ahli fekah) berbeza pendapat tentang hukum bukan muslim masuk ke dalam masjid. Namun, majoriti fuqaha termasuk dalam Mazhab al-Syafi’i berpendapat bahawa bukan muslim boleh masuk ke dalam masjid jika ada keperluan untuk itu. Pendapat ini disokong oleh beberapa dalil yang kuat. Di samping, ia juga membantu memahamkan masyarakat bukan Islam mengenai Islam. Dalam negara yang berbilang agama seperti negara kita, pandangan ini bukan sahaja kuat dari segi dalilnya, ia juga memberikan kebaikan kepada dakwah Islam itu sendiri.
Dalam hadis al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa:
Nabi s.a.w telah menghantar pasukan (skuad) tentera berkuda dan menawan Thumamah bin Athal yang merupakan kepimpinan Bani Hanifah dari Yamamah. Beliau dibawa ke Madinah dan diikat di tiang masjid Nabi s.a.w. Apabila Nabi s.a.w datang ke masjid dan melihatnya, baginda bertanya: “Apa yang ada engkau dapati wahai Thumamah?”
Jawabnya: “Bersamaku kebaikan, wahai Muhammad! Jika engkau membunuhku, engkau membunuh orang yang punyai darah (berhak dibunuh atau mungkin beliau meminta simpati), jika engkau memberi kurnia, engkau memberikan kurnia kepada orang yang berterima kasih. Jika engkau mahu harta, engkau boleh minta seberapa banyak yang engkau mahu”.
Lalu Nabi s.a.w meninggalkannya. Keesokannya Nabi s.a.w bertanya lagi: “Apa yang engkau dapati Wahai Thumamah?”.
Jawabnya: “Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi kurnia, engkau memberi kurnia kepada orang yang berterima kasih”.
Nabi meninggalkannya. Keesokannya lagi Nabi s.a.w bertanya lagi: “Apa yang engkau dapati wahai Thumamah?”.
Jawabnya: “Seperti yang aku katakan kepadamu”.
Lalu Nabi s.a.w memerintahkan: “Bebaskan Thumamah”.
Lalu Thumamah pun keluar pergi ke mata air berdekatan masjid, beliau mandi, kemudian masuk semula ke masjid dan mengucapkan: “Aku bersaksi bahawa tiada ilah (yang diabdikan diri) melainkan Allah dan Muhammad itu Rasulullah”.
Beliau juga berkata: “Wahai Muhammad! Demi Allah, duhulu tiada atas muka bumi yang lebih aku benci daripada engkau, sekarang berubah engkau telah menjadi orang yang paling aku sayangi. Demi Allah, dahulu tiada agama yang lebih aku benci dari agamamu, sekarang berubah agamamu menjadi agama yang paling aku sayangi. Demi Allah, tiada dahulu negara yang lebih aku benci dari negaramu, sekarang berubah negaramu menjadi negara yang paling aku sayangi..”.
Hadis di atas menunjukkan bagaimana Thumamah bin Athal seorang tawanan perang yang menentang kerajaan Nabi s.a.w dibawa masuk ke dalam masjid. Antara tujuannya, agar dia dapat melihat kehebatan ibadah dalam Islam. Sekalipun dia musuh dan tawanan perang, Nabi s.a.w menggunakan pendekatan yang menarik jiwanya sehingga dia akhirnya menganut Islam. Ini dengan cara menempatkannya dalam masjid dan baginda bertanya soalan selama tiga hari lalu memaafkannya. Kesan berada di masjid dan kemaafan Nabi s.a.w, akhirnya kepimpinan musuh tersebut menganut Islam. Hadis ini menjadi bukti bahawa orang bukan Islam boleh masuk ke dalam masjid. Inilah pegangan kebanyakan ulama termasuk dalam Mazhab al-Syafi’i. Kata al-Imam al-Nawawi (meninggal 676H):
“Hadis ini menunjukkan harus membawa orang kafir masuk ke dalam masjid. Mazhab Syafi’i mengharuskannya dengan izin muslim. Ini merangkumi kafir ahli kitab atau selain mereka”. (al-Nawawi, Syarah Sahih Muslim, 12/435, Beirut: Dar al-Khair).
Majlis Fatwa Tetap Arab Saudi mengeluarkan hukum tentang bukan muslim masuk ke masjid seperti berikut:
“Pendapat yang tepat bukan muslim boleh masuk ke dalam masjid untuk sesuatu kemaslahatan syariah atau sesuatu keperluan tertentu seperti mendengar sesuatu yang membawa masuk ke dalam Islam, atau keperluannya untuk minum air yang berada dalam masjid atau selainnya. Ini kerana Nabi s.a.w mengikat Thumamah bin Athal al-Hanafi dalam masjid sebelum dia menganut Islam, baginda juga menempatkan perwakilan Thaqif dan perwakilan Kristian Najran di masjid sebelum mereka menganut Islam. Ini kerana ada banyak faedah mereka memasuki masjid, antaranya; mendengar ucapan dan nasihat Nabi s.a.w, melihat orang bersolat dan membaca al-Quran dan berbagai faedah besar yang lain bagi sesiapa yang melazimi masjid”. (Fatawa al-Lajnah al-Daimah 6/276. Riyadh: Idarah al-Buhuth)
Luaskan Fungsi Masjid
Kita sepatutnya meluaskan fungsi masjid agar dapat menjadi ‘centre for Islamic Information’ yang mesra pelanggan. Masjid sepatutnya berfungsi menyampaikan Islam kepada setiap pihak; muslim dan bukan muslim. Di negara seperti Malaysia yang berbilang agama dan budaya, kaum muslimin perlulah aktif dan intraktif dalam menyampaikan mesej Islam. Jika masjid dijadikan zon larangan bagi orang bukan muslim sehingga tidak dapat mendekatinya, bilakah Islam akan dapat difahami oleh mereka. Sudahlah dalam negara ini banyak fatwa ala-taliban yang cuba menggambarkan seakan tiada rahmah antara muslim dan non-muslim, ditambah lagi dengan ditutup ruang untuk mereka mendengar ajaran Islam. Masjid digambarkan musuh mereka dan mereka dilarang menghampirinya. Sementara dalam masa yang sama ada pihak bukan Islam yang menjemput muslim dengan hormat ke tempat ibadah mereka serta menghulurkan berbagai bantuan. Akhirnya, kita terus bermusuhan tanpa mencari titik dakwah, atau sekurang-kurang noktah yang mengurangkan sangkaan salah terhadap agama hidayah ini. Ke manakah hala tuju Islam yang hendak kita bawa dalam negara ini?!

Thursday, August 26, 2010

Menghormati Allah

Ustaz Zahazan Mohamed

Ertinya, barang siapa yang sangat menghormati Allah SWT, lalu bersegera melaksanakan semua perintahnya meskipun kecil, maka itu pertanda bahawa dirinya sangat terhormat di sisi Allah. Sebaliknya, barang siapa yang meremehkan hak-hak Allah dan tidak menghormatinya sama sekali, itu pertanda bahawa ia sangat hina di sisi Allah SWT

Hadis: Kegembiraan Orang Berpuasa

Ustaz Zahazan Mohamed

Sabda Nabi saw maksudnya :" Bagi mereka yg berpuasa dua kegembiraan, pertamanya ketika berbuka dan kedua semasa bertemu dgn Tuhannya".(Rwyt al-Bukhari & Muslim)

Imam Syafie on Orang Soleh dan Pemaksiat

Imam Syafi'iy berkata maksudnya :

Aku cinta pd orang salih wp aku bukan dari kalangan mereka, muga2 aku beroleh syafaat drpnya.
Aku benci pd seseorang yg kerjanya adalah maksiat,
Walaupun aku dan dia adalah sama .